Kinari dan Benang Waktu
Satu persatu tetesan memercik, lalu melayang ringan, membentuk benang-benang halus yang mengait ke kaca etalase, ke genangan hujan di telapak jalan, ke botol plastik yang terlupa, ke lensa kamera yang menatap diam.
Di tempat lain, Kael melesap ke gang-gang, menyentuh cermin barbershop, menyapu uap di kaca restoran, menggambar garis-garis tipis dengan kuku hitamnya di belakang bingkai iklan.
“Jangan terlalu terang,” bisik Kael, “biarkan ia nyaris tidak ada—seperti rahasia.”
“Jaring tak perlu terlihat untuk menangkap ikan,” sahut Kinari, telapak tangannya terus menari. “Cukup ia menyentuh air.”
Hot Chapters