Ada sesuatu tentang label 'villainess' yang selalu bikin diskusi jadi seru di komunitas manga — karena istilah itu nggak cuma soal siapa jahat atau tidak, tapi soal sudut pandang dan konstruk cerita.
Dari pengamat yang nonton banyak adaptasi game-otomatis ke manga, aku melihat villainess awalnya diposisikan sebagai antagonist yang jelas: musuh utama protagonis, seringkali punya sifat dingin, ambisius, atau manipulatif. Tapi seiring berkembangnya genre, banyak manga yang mulai membongkar istilah itu. Contohnya di cerita seperti 'My Next Life as a Villainess: All Routes Lead to Doom!' si karakter disebut villainess karena peran dalam dunia otome game, bukan karena dia lahir jahat. Kritikus biasanya menjelaskan bahwa kata ini lebih ke label naratif — bagaimana cerita dan karakter lain memandangnya — daripada esensi moral tunggal.
Sebagai pembaca yang gampang terkesan sama nuance, aku cenderung menekankan tiga hal saat menjelaskan: konteks (apakah dia villain di dunia game, politik, atau sosial), sudut pandang (narrator/POV siapa yang memberi penilaian), dan fungsi cerita (apakah villainess itu dipakai untuk kritik sosial, humor, atau transformasi/penebusan). Kalau ingin membuat orang paham, tunjukkan contoh konkret, bandingkan bagaimana karakter itu diperlakukan oleh sistem cerita, dan tanyakan apakah label 'villainess' itu adil — kadang jawaban justru lebih kompleks daripada sekadar baik vs jahat.