Antara Cinta dan Luka
“Mama pasti suaranya paling keras!”
Ratna tertawa serak, suara seperti angin Bali. “Kamu yang paling tinggi, La. Mama cuma ikut-ikutan.”
Panggung utama terasa seperti dunia lain. Lantai hitam mengilap mencerminkan lampu sorot, piano Steinway D hitam berdiri megah di tengah, tuts putihnya berkilau. Dua belas mikrofon Shure SM58 sudah terpasang, in-ear Sennheiser G4 siap di telinga, string quartet delapan orang duduk di belakang dengan partitur terbuka.