Suami pengganti
"Tapi kalau kamu ingin pergi karena tidak nyaman dan tidak bisa mencintai saya. Saya ikhlaskan, saya lepaskan tanpa beban. Saya tidak akan memaksa perasaan itu, asalkan kalian bahagia saya rela. Tak apa, kebahagiaan kalian jauh lebih penting dari apa pun,"
Aku menarik napas panjang. Kata-kata itu keluar dari mulutku seperti duri yang kupaksa lepas satu per satu dari dada sendiri. Sakit. Tapi sedikit membuatku lega.
Amara terpaku. Bibirnya bergetar, seperti ingin membantah, tapi suaranya tak kunjung muncul. Air matanya menetes, satu demi satu, jatuh ke punggung tanganku yang masih menempel di pipinya.
Hot Chapters