Sang Penguasa Mutlak
Ia terbaring di tanah, mencoba mengumpulkan sisa tenaganya untuk berdiri.
Dengan gemetar, ia menancapkan pedangnya ke tanah sebagai tumpuan agar tubuhnya tidak ambruk.
Darah segar mulai mengalir deras dari dahinya, menutupi separuh wajahnya.
"A... aku tidak akan melupakan ini. Kemari kalian, keparat!" teriak Lun Ya, memaksakan sisa-sisa aura merahnya untuk kembali menyala.
"Hooo, kita lihat sampai kapan pahlawan ini bisa bertahan," ejek pria berpedang emas.