Candu Dekapan Kakak Ipar
Satu tangannya mengusap rambut Anggita perlahan, ritmis, menenangkan.
“Dengar ya, Anggi,” bisik Djiwa lembut di dekat telinga gadis itu. “Perasaan cemburu itu wajar. Kamu bukan anak jahat. Kamu cuma anak kecil yang takut kehilangan perhatian.”
Anggita terisak di dada Djiwa, jemarinya mencengkeram kain baju wanita itu.
“Adek kamu tahu kamu sayang,” lanjut Djiwa lirih. “Dan tante yakin, Tuhan juga tahu hati kamu. Jadi jangan menyalahkan diri sendiri, ya.”