Kita yang Terluka
“Setiap malam, dia masih menyebut namamu dalam tidurnya, Mbak. Dia memang bersikap baik, tapi kebaikannya membuat aku sakit karena tahu aku tidak pernah ada di hatinya.”
Zahra menggigit bibir. Luka yang sekian lama berusaha dia sembuhkan, malam ini terkoyak kembali. Perih terasa mengiris hati.
“Bagaimana cara membuat Mas Ammar mencintaimu sedalam itu, Mbak? Maukah kamu berbagi caranya denganku agar setidaknya sedikit saja, sedikiiiit saja, dia bisa memandang aku sebagai istrinya, bukan sebagai tempat untuk memenuhi kebutuhan biologisnya semata.”
Sikat na Kabanata