Rahim yang Tergadai
Matanya berembun, senyuman penuh luka tersungging di bibirnya.
Kalingga menggigit bibir, ingin mengalihkan tatapannya, tetapi jemari Gala bergerak ke tengkuknya, menariknya lebih dekat.
"Jangan menipu dirimu sendiri, Kalingga." Suara Gala rendah, nyaris seperti bisikan. "Aku tahu kamu juga merindukanku."
Kalingga terdiam. Ini sebuah kegilaan atau trauma bersama? Menginginkan sesuatu yang sama tapi tak tergapai lagi? Apa Gala sama dengan Kalingga yang tak mampu kehilangan anaknya?