Kaisar, Jangan Meminta Lebih
Angin pemutus.
“Dengan ini,” bisik Lian, air matanya mengalir, “aku tolak takdir yang ditulis untukku. Dan aku kembalikan takdir mereka yang seharusnya.”
Ia memusatkan segenap jiwa dan Qi Angin-nya—segala kenangan, rasa takut, cinta, dan amarahnya. Ia menerjang maju. Saat menembus bayangan Shamal, serpihan ingatan asing menyergapnya: rasa sepi yang tak berujung, angin di tebing tinggi, dan desahan lega. Kemudian, dengan tinjunya yang penuh Qi Angin, ia menghantam pusat bola cahaya itu.
Hot Chapters