Bunga yang Layu Sebelum Ujung Jalan
Mendorong gadis itu dari tangga, memaksa lari keliling lapangan sambil menggendong kantong pasir, mendiamkan gadis itu disiram air kotor tanpa berbuat apa-apa .
Setiap kali kenangan itu melintas, rasa sakit di hatinya kian bertambah hebat, seolah-olah hendak mencabik-cabik tubuhnya sampai hancur.
"Nia ... maaf ...." ucapnya parau berulang kali, "Aku salah ... aku nggak seharusnya benci kamu ... nggak seharusnya sakiti kamu ...."
Tepat pada saat itu, pintu rumah megah itu mendadak dibuka dengan kasar, Velen melangkah masuk dengan cepat menggunakan sepatu hak tingginya.