Yuk, Nikah!
Kuraih tangannya, menggenggam pelan dan berkata,
“Vi, tenang. Ini Abang. Abang nggak akan ke mana-mana. Istirahat aja, ya.”
Dia malah menangis, “Berat, semua berat buatku. Bukannya benci Abang ada yang punya, tapi Vivi merasa tolol karena terus berusaha menerima itu. Vivi benci pada sikap tak kompeten Vivi. Kecewa karena telah mengingkari diri sendiri.” Dia tersedu. Apa mungkin Vivi memang bicara dalam keadaan sadar?
“Kamu ngomong apa? Ingkar apa?”