Pura-Pura Buta
Mataku mengerling tajam.
"Dulu, kita teman baik, Del. Sahabat. Dimana ada kamu, di situ ada aku. Tidak terpisahkan. Namun sayangnya aku selalu berada dibelakangmu. Yang ditilik selalu kamu. Apa-apa kamu. Sedangkan aku … cuma sebagai pajangan dan pembanding yang mengekor langkahmu. Saat orang memujiku, sebenarnya mereka sedang memujimu. Mereka juga mau berteman denganku karena aku temanmu. Dari situ, timbul kebecianku padamu. Aku iri sama kamu." Lastri menarik napas sejenak lalu melanjutkannya lagi, "Sampai akhirnya kutemukan celah untuk menghancurkanmu," jelasnya dengan mendengkus.