Wiro sang Penakluk
Gelas saling bersentuhan pelan, suara kristal bening terdengar seperti nada pertama dari lagu yang panjang.
“Kamu luar biasa tadi,” kata Meilin akhirnya, menatap Wiro dari samping. “Bukan cuma masakannya… tapi caramu pegang pisau, caramu cicip rasa, caramu jelasin ke juri. Aku… gak bisa berhenti mikirin itu sejak tadi.”
Wiro tersenyum kecil, menyesap champagne. “Terima kasih, Mei. Tapi aku cuma masak seperti biasa.”