Selir Yang Terlupakan
Ia kembali meraih cangkir teh, uapnya kembali menghangatkan wajahnya.
"Aku akan membacanya semuanya," janjinya tulus. Tak ada kepura-puraan, tak ada nada penguasa yang berjanji memberi anugerah. Itu adalah suara seorang pria yang terlambat menyadari apa yang telah hilang, dan bertekad memulihkannya sedikit demi sedikit.
Mei Mei menelan ludah susah payah, matanya terbelalak lebar. Ia melirikku seolah meminta izin bahkan untuk sekadar bernapas.