Hati Yang Terpilih
Yuli yang melihat perubahan pada wanita di hadapannya ini terkejut.
“Iya … Saya baik-baik saja. Hanya … Saya belum sempat sarapan. Hanya minum teh saja tadi pagi,” jawabnya sambil nyengir. “Saya bisa langsung masukkan, Mba?”
“Oh iya, Ibu. Silahkan. Ibu lurus saja sampai pintu kaca putih itu, lalu belok ke sebelah kanan. Ada sebuah lorong yang menghubungkan dengan tempat diselenggarakannya acara pernikahan. Ibu ikuti saja lorong itu, ya.”