Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
FIORE

FIORE

Dan kehidupan di Kerajaan tersebut tidak akan pernah sama lagi. Adrian bangkit berdiri untuk menuangkan cairan kental berwarna merah pekat ke gelas kaca yang telah disiapkan oleh Max sendiri, dengan pinggiran yang halus dan indah serta berkilau di bawah cahaya. Ia memperhatikan gelas tersebut dengan cermat, memutar-mutar dengan perlahan hingga cairan di dalamnya bergerak memutar perlahan, sebelum ia menghabiskannya dalam satu kali tegukan. Adrian bergidik karena jijik. Ia masih belum terbiasa dan ia juga tidak akan pernah mau tahu darimana Max mendapatkan itu.
105.0K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 164 kali sebagai ludah kental
Baca
+Pustaka
Putri Terbuang Dimanja Pangeran Tampan

Putri Terbuang Dimanja Pangeran Tampan

“Terima kasih, tapi aku tidak suka alkohol.” “Woaah, kau polos sekali! Jadi kau pikir ini anggur? Ini hanya soda, jadi kau tidak akan mabuk saat meneguknya.” Jasper terkekeh, merasa geli karena Letha tak bisa membedakan antara wine dan soda. Refleks Letha menunduk dalam–menyembunyikan rona merah yang menghiasi pipinya. “Letha, kau bodoh sekali …,” gumam Letha merutuk diri sendiri.
103.3K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 69 kali sebagai ludah kental
Baca
+Pustaka
HYANG YUDA

HYANG YUDA

jawab Hyang Tarangga untuk kedua kalinya dengan darah yang semakin banyak mengalir dari mulutnya. Tawa terdengar dari mulut Mahamara membuat Hyang Yuda yang tadi sempat mengabaikannya kemudian mengalihkan pandangannya dan menatap sengit ke arah Mahamara. Dengan tawa bangga, Mahamara berkata kepada Hyang Yuda, “Hyang Tarangga berbohong padamu, Hyang Yuda. Tidak akan ada yang baik – baik saja ketika terkena serangan Litheng Kudi milikku. Apalagi sampai merasakan langsung tajamnya Litheng Kudi. . .” Mahamara berjalan mendekat ke arah Hyang Yuda dengan tawanya yang berubah menjadi senyuman sembari menunjukkan keindahan dari Litheng Kudi miliknya. “Litheng Kudi milikku ini merupakan senjata pusak
104.5K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 102 kali sebagai ludah kental
Baca
+Pustaka
Kesempatan Kedua Sang Legenda

Kesempatan Kedua Sang Legenda

Bab 113: Haruskah Aku Pertaruhkan Hidupku Sekali Lagi? (1) Yang tersisa sekarang hanyalah memproduksi secara massal dan mengomersialkan produk itu dengan benar. "Untuk saat ini, aduk ini sampai rata." Para pekerja dengan rajin mengaduk ekstrak itu sesuai instruksi Kael. Setelah diaduk beberapa saat dan didiamkan hingga dingin, ekstrak itu perlahan menjadi lebih kental.
102.7K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 53 kali sebagai ludah kental
Baca
+Pustaka
Ludus

Ludus

tanya Jordan dengan kerutan dikeningnya. "iya deh kayanya," jawab Dudung pelan. "kenapa emang Dung?" tanya Darga. "ya ngga sih nanya doang gue hehe, gue DM i* nya kirain bakalan cuek bebek taunya ngegas njir!" jelas Dudung sambil bergidik ngeri membuat teman-temannya mengernyit heran. "lah? Ngegas macam mana kau ni? Dikira motor kali ya!"
104.7K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 135 kali sebagai ludah kental
Baca
+Pustaka
Pusaka Warisan Semut Rangrang

Pusaka Warisan Semut Rangrang

Madun sendiri tampak sangat jantan meski dalam posisi terpojok; pundaknya yang lebar dan otot lengannya yang penuh urat mencengkeram erat pinggul Lala yang ramping namun padat. ​Lala tidak peduli, ia justru mulai menggesek-gesekkan area sensitifnya ke hidung dan mulut Madun dengan gerakan memutar yang liar. "Ayo Mas, minum semuanya! Jangan sampai ada yang netes ke lantai! Ini cairan spesial buat kuli paling perkasa di pasar ini!"
5.4K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 199 kali sebagai ludah kental
Baca
+Pustaka
Cacian Keluarga SuamiKu

Cacian Keluarga SuamiKu

Minyak muncrat ke mana-mana, santan tumpah di lantai, dan ikan goreng yang harusnya renyah malah gosong sebelah. Nenek yang baru masuk hampir menjerit. “Ya Allah, Ayu! Kamu masak apa?!” Ayudia mengangkat panci lodeh yang entah mengapa warnanya abu-abu. “Ini… sayur lodeh spesial. Buat Mas Arthayasa.” Nenek mengelus dada. “Kalau gini, nanti yang makan bisa sakit beneran.”
103.1K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 119 kali sebagai ludah kental
Baca
+Pustaka
TERJERUMUS TEMAN KOS

TERJERUMUS TEMAN KOS

Menjilati dari ujung, menyesap cairan merah keunguan sampai hanya tersisa sedikit sedikit rasa lengket yang becampur air ludahnya. Membuat Zeline makin menggelinjang tak karuan. Lidah liar itu kini berada di garis bawah perutnya. Semakin panas, naik pelan-pelan ke pusarnya, bermain-main di sana. Berputar, menyesap aliran anggur merah yang banyak bermuara di sana. “Ahhhhh….. Om…. SHhhhh…. Plisss ini gila banget… Ahhhhh… “
104.9K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 112 kali sebagai ludah kental
Baca
+Pustaka
Sebatas Pengantin Pengganti

Sebatas Pengantin Pengganti

"Pantas saja cantik-cantik gitu, kaya masakan chef ternama." "Jauh banget ya Bi, sama masakan Lula yang ancur," kata Aludra. "Kadang kemanisan, kadang keasinan, kadang kebanyakan air, kadang juga sebaliknya. Duh, kalau diingat lagi jadi malu sendiri."
9.730.6K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 1.2K kali sebagai ludah kental
Baca
+Pustaka
Pusaka Idaman Gadis Desa

Pusaka Idaman Gadis Desa

ucap Linda dengan cepat. "Makanya baunya nyengat banget dan aneh kayak begini!" lanjut Linda sambil menunjukkan cairan kental berwarna cokelat ke wajah ayahnya. Cairan lulur itu nampak sangat pekat dan aromanya langsung memenuhi indra penciuman sang Kepala desa saat itu juga.
1047.3K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 1.2K kali sebagai ludah kental
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
123456
...
9
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status