Takdir Memisahkan Kita
“Lutut yang terluka tidak boleh dibiarkan menganga terkena udara terlalu lama, bisa berisiko pembekuan darah. Ini, pakai jaketku untuk menutupi kakimu. Kita sebentar lagi sampai di rumah sakit.”
Mendengar itu, Laila tak tahu apakah dia harus tertawa atau tidak. Ia mengangkat kepala hendak menjelaskan bahwa lukanya tidak separah itu, tidak sampai pada tahap bisa menyebabkan pembekuan darah. Namun saat ia menatap wajah Hendri dan melihat keseriusan serta kekhawatiran yang jelas terpancar di matanya, kata-kata yang sudah sampai di ujung bibirnya pun kembali ia telan.