Ada suatu malam ketika lampu redup dan pikiran melayang jauh, aku menemukan diri terjebak dalam dunia imaji yang tak terbatas. Menulis puisi imajinatif bukan sekadar merangkai kata, tapi membiarkan diri tenggelam dalam arus bawah sadar. Kuncinya adalah membangun 'dunia kecil' dengan sensorium yang hidup—bayangkan bau hujan di planet asing, atau sentuhan angin yang berbicara dalam bahasa warna. Aku sering memulai dengan objek sehari-hari lalu memutarnya 180 derajat: sendok bukan untuk makan, tapi jembatan bagi semut raksasa. Latihan favoritku adalah menulis tiga baris pertama dengan mata tertutup, membiarkan jari menari di keyboard tanpa sensor.
Puisi imajinasi terbaik justru lahir dari batasan. Cobalah menulis dengan tema 'waktu yang berbentuk kubus' atau 'tangisan yang menumbuhkan bunga'. Jangan takut mencampur metafora secara tidak logis—kekacauan itu sering melahirkan kejutan puitis. Terakhir, bacakan puisi itu keras-keras untuk merasakan ritmenya; kadang imajinasi terdengar lebih nyata ketika diucapkan.