KEMBALINYA SANG RATU
Ketika idenya mulai didengar, saat itu pula ia harus siap menghadapi penafsiran yang menyimpang, yang memelintir nilai menjadi proyek, falsafah menjadi produk.
“Aku harus menjaga agar Madrasah Langit tak menjadi sekadar slogan,” jawab Lintang pelan. “Aku ingin memastikan ia tumbuh di ladang yang subur, bukan di gedung konferensi semata. Karena langit sejatinya tak butuh panggung, hanya butuh jiwa yang siap mendengar.”
Dari layar, Mika angkat suara lagi. “Lintang, apakah Madrasah Langit juga bisa kami terjemahkan ke dalam bahasa kami? Aku ingin menerjemahkannya ke dalam bahasa Kalaallisut.”