Sentuh Aku, Om Dokter!
Aku akui, ada sensasi aneh yang menjalar di tubuhku.
Ini rasanya sungguh berbeda. Sangat berbeda dari sentuhan Mas Bilal. Ada sesuatu yang liar dan berbahaya dalam sentuhan Om Bagas, sesuatu yang membuatku penasaran.
"Sudah basah kamu, Sayang." Dia melepaskan ciumannya, lalu menatap mataku yang mulai sayu, pupilku membesar. Senyumnya sinis, seolah dia tahu apa yang sedang kurasakan. Aku merasa sudah tak bisa berpikir jernih, otaku mulai kosong. "Kamu juga pasti sudah nggak tahan, kan? Mangkanya, nggak usah jual mahal. Om akan memuaskanmu."