Selir Yang Terlupakan
Melodi yang kupetik adalah kelanjutan dari puisi yang baru saja kubacakan: tentang musim dingin yang panjang, salju yang menutupi tanah, pohon yang tetap berdiri tegak meski rantingnya hampir patah, dan harapan yang tetap hidup di bawah lapisan es yang tebal.
Tak lama, suara bisik-bisik yang sempat ada lenyap sepenuhnya. Para pelayan yang hendak bergerak melayani pun berhenti diam di tempat, mata mereka terpaku pada sosokku yang duduk tenang di tengah aula. Anggur di gelas tampak berhenti bergerak, dan cahaya lilin seolah menari mengikuti irama yang tercipta.