Menikahi Pangeran Es
Kata Aruna terbata-bata, ia masih merasa kebingungan terlebih saat ini Damar tengah merangkul bahunya.
“Ibu, maaf aku mengunjungimu malam-malam dan maaf karena calon menantumu kurang sopan menyapamu, tapi ia gadis yang baik. Tenang saja.”
Aruna berniat mengelak karena lagi-lagi Damar mengatakan kata calon tapi ia tak sampai hati melakukan itu, ketika melihat tatapan Damar pada nisan ibunya. Antara sedih, bahagia juga rindu. Aruna paham betul bagaimana arti tatapan Damar sekarang, ia tengah merindukan ibu nya. Kerinduan yang tak akan pernah selesai dan terobati oleh apapun. Merasakannya membuat bahagia dan sedih pada saat bersamaan, bahagia karena ketika merindukan seseorang membuat ingatan t
Hot Chapters