Balada Asmara Biduan Dangdut
Kulihat langit-langit kamar, kemudian Dewik langsung mendekatkan selangkangannya ke bibir.
“Wik?” kataku heran.
“Keluarkan lidahmu, Mas.”
Awalnya ragu, tapi kemudian kujulurkan lidahku, dan lidahku akhirnya menyentuh suatu bagian yang basah. Dewik terus mengerang, dan semakin mengerang, semakin aku bertambah senang. Berkali-kali tubuhnya bergetar, tapi tak kulepaskan jangkauan lidahku dari ‘miliknya’ yang kini telah banjir dipenuhi cairan.