Pesugihan Kandang Bubrah
Ketika ia membuka matanya, ia kembali terbangun di ruangan kecil yang familiar, dengan Jatinegara yang kini terbaring di sampingnya.
Lila menatap anaknya, air mata mengalir deras. Ia tahu, perjalanan ini belum berakhir. Tetapi ia juga tahu, ia telah membuat keputusan yang tepat. Rumah itu, dengan segala kegelapannya, sudah harus ia tinggalkan.
Lila terjaga dari mimpi itu, tubuhnya terasa kaku, namun hatinya penuh dengan kegelisahan. Mimpi yang baru saja ia alami mengganggu pikirannya.