Duka Cita
“Ini juga yang ke sini orang suruhannya. Bukan orangnya langsung. Oia, dia juga maunya langsung transfer ke rekening elo, nggak mau lewat gue. Gimana? Kalau iya, gue kasih nomor hape lo. Lumayan, Cit, kaga pake nawar!”
“Iya, deh.” Walau terasa sedikit aneh, tetapi Cita tidak bisa mengelak uang di depan mata. Ia hanya ingin mobilnya cepat terjual, untuk menambah pemasukan selama hidup di Surabaya. Dalam waktu dekat, Cita dan Sandra juga akan membuka usaha kecil-kecilan terlebih dahulu. Yang penting ada pemasukan, yang bisa diputar untuk sementara waktu. “Thanks, ya, Do.”
Cita meletakkan ponselnya di lantai, setelah selesai melakukan panggilan dengan teman lamanya. “Mobilku ada yang beli, ngga
Bab Populer