Kimmy vs Hantu Tampan
Aku tahu dia sengaja bermain petak umpet denganku.
Kesabaranku yang serasa hanya setipis tisu ini hampir habis. Amarah yang semula hanya berdesis kini mulai menyala seperti api kecil yang dipantik bensin. Mataku liar mengitari ruangan. Berantakan di mana-mana, setiap sudut tampak kacau seperti medan perang, kecuali satu benda—sebuah piano besar berwarna putih, berdiri kokoh tanpa goresan sedikit pun. Tidak ada debu yang berani hinggap di permukaannya, seolah benda itu dilindungi oleh semacam aura magis. Aku tersenyum sinis.
"Ah, jadi ini yang paling kau sayangi, ya?" gumamku, akhirnya menangkap kelemahannya.
Hot Chapters