PEREMPUAN MASA LALU
Aku mengelus lembut perut Mei, sambil berucap, “Anakku, kamu pasti kuat. Allah menjadikan kamu yatim bukan karena hina atau tidak peduli padamu, tetapi akan ada hikmah di balik ini semua. Kamu anak yang akan menjadi jembatan orangtuamu menuju surga.”
Napas ini kian memburu, air mata semakin deras membahasi pipi. “Ponaan tante, kamu itu kuat. Seperti Rasulullah, ia yatim sejak dalam kandungan dan itu tidak menjadikan Rasul hina, bukan? Melainkan ia adalah manusia paling mulia. Kekasih Allah.”
“Raline?” Mei bersuara lirih.
Aku menatap wajah perempuan itu. “Iya, Mei. Anakmu kelak akan menjadi manusia mulia, insya Allah. Akan menjadi anak yang taat kepada Tuhannya.”
Bab Populer