Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Puncak Kehidupan

Puncak Kehidupan

dan ia tidak punya waktu untuk lebih memperhatikan pasangan ibu-anak itu. Ledakan! Tubuh buaya yang sangat besar jatuh ke tanah, menyebabkan rawa meluap, lumpur dan air terciprat ke mana-mana. Makhluk itu berusaha mati-matian untuk melarikan diri ke kedalaman rawa. Sebelum menghilang, ia menoleh dan menoleh ke belakang, kengerian berkilat di matanya… Ia tertegun! Buddha raksasa, begitu menakutkan, meledak seperti gelembung dan menyebar ke udara. Mengaum! Marah, buaya raksasa itu dengan tidak sabar menyemburkan kabut air dari lubang hidungnya. Itu telah ditipu! Sialan! Buaya adalah raja rawa ini, tetapi ilusi menipunya. Betapa memalukannya itu? Itu meraung marah, mencoba memberi
8.53.4M DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 81.9K kali sebagai mulut buaya
Tampilkan Ulasan (846)
Baca
+Pustaka
Septiawan Cheeick
alur cerita nya slalu bisa di tebak..gitu2 aja.. mana dikit banget cuma 2 bab..itu juga cuma cerita selingan nyeritain informasi tokoh aja.. jadi ga nafsu baca..klo mau nyeritain tokoh aja mau nya uodate bab nya yg banyak sekali 4 atau 5 bab biar yg nunggu bab ga kesel.. cuma curhat aja ini............
Raka Abqary
percuma dong alex mnjadi sngat kuat toh pada akhirnya hanya alex dan kaisar rowan yang tersisa dibumi..& ternyata tujuan dari cerita ini ialah hanya mencari & bertemu leluhur rockfeller,yaitu dewa sang pencipta..gk seru,gak sesuai dgn harapan,masa iya stlh reinkarnasi alex jdi murid SMPnya dorothy?
Baca Semua Ulasan
Mata Elang

Mata Elang

gumam Mawar. Bodohnya, Mawar tidak mengambil pisau peralatan makan untuk menu daging. Dia hanya mengambil sendok dan garpu. Karena daging sapi yang begitu tebal serta alot memerlukan pisau untuk memotongnya, akhirnya dia memilih untuk menggigitnya saja. Para tamu hotel melihat kelakuan Mawar yang sangat kampungan itu menertawakannya. Mawar hanya makan dan seru sendiri menguyah makanannya yang alot itu.
108.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 184 kali sebagai mulut buaya
Baca
+Pustaka
Mutasi Alam Liar

Mutasi Alam Liar

Di dapur, Budi menemukan lima karung beras dan persediaan makanan lain cukup untuk menambah stok mereka. Saat ia keluar kembali, hujan gerimis sudah turun. Rencananya membakar rumput sore ini harus ditunda. Budi melemparkan bangkai mutan yang ia temui ke tengah halaman. Semua orang berkumpul penasaran. Itu adalah tikus bermutasi, bentuknya jauh berbeda dari yang pernah dilihat sebelumnya: tubuh ramping, ekor pendek, kulit bersisik hitam mengkilap, rahang lebar dengan gigi saling silang yang tampak mengerikan. Tadi binatang itu tiba-tiba menerkamnya dari gelap, tapi Budi memenggal kepalanya sebelum sempat melukai ini akan jadi lauk tambahan.
816 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 31 kali sebagai mulut buaya
Baca
+Pustaka
Janu: Tahap Awal

Janu: Tahap Awal

Dia melempar tombak di genggamannya ke arah Janu yang sudah bangkit. Janu pun juga tanggap. Walau tubuhnya sedikit pusing karena terbanting ke udara, dia masih cukup kuat untuk menyerang. Tombak bambu segera ditangkapnya, lalu dengan cepat ditusukkan ke arah perut sang buaya yang terbuka di depannya. Darah mengucur deras saat Janu menusuk tombak bambu itu. Janu yang menerima lemparan tombak lagi dari Malya, segera menusukkan tombak ketiga di perutnya, merobek perut buaya itu.
9.135.7K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 821 kali sebagai mulut buaya
Baca
+Pustaka
Mutiara Yang Ternoda

Mutiara Yang Ternoda

Andra yang melihat Tiara langsung memeluknya erat dan semakin menangis. "Udah dong, sayang. Jangan malah tambah kenceng nangisnya, malu kan kalau diliat orang. Udah gede udah mau SMP kok masih nangis gini? cup cup cup kenapa sayang?" dia menoleh ke sekitar untung saat itu sepi di komplek mereka. "Andra tadi dibully kak, masa Andra katanya kaya beruang kutub karena makan mulu."
5.3K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 127 kali sebagai mulut buaya
Baca
+Pustaka
Planet Suryakanta dan Ke-5 Kapita Almiya

Planet Suryakanta dan Ke-5 Kapita Almiya

ujar Naya celingukan melindungi kepalanya, membayangkan makhluk raksasa, mungkin seukuran Mayura atau kurang dari itu. Sunam hanya tertawa kecil. “Coba lihat ke depan, Nay.” Dari kejauhan, terdapat ladang yang ditanami dengan tanaman mirip kelapa, ukurannya tiga kali lebih besar dari kelapa yang biasa ada di bumi. Namun, tidak hanya itu. Tak jauh dari ladang tak berpagar itu, seekor Matos besar berperawakan mirip sapi melangkah pelan, mengincar salah satu dari tanaman itu. Dengan taringnya yang cukup tajam, ia berhasil menumbangkan salah satu di antaranya lalu memakan dedaunan dan buah yang ada, mengunyahnya seperti permen karet. Rahangnya pasti sangat kuat, termasuk taringnya. Melihat semua
2.9K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 64 kali sebagai mulut buaya
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
1
...
345678
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status