Jika Aku Membuang Bapak
Sebab kata Ibu, “Orang tua tetaplah orang tua. Seburuk-buruknya bapak kalian, dia tetap Bapak. Jika suatu saat nanti kalian bertemu dengannya, perlakukan dia layaknya seorang Bapak.”
Di balik helm, mataku terasa pedih. Penyebabnya bukanlah debu yang sudah biasa memasuki mata. Rasa sakit yang merajam dada ini terlalu sulit kujelaskan. Andai Ibu tahu, betapa sulitnya memaafkan seorang pahlawan yang melalaikan tugasnya. Bapak tidak lagi terlihat seperti pahlawan seperti dulu.
Ponsel di dalam jaket ojolku bergetar. Aku menepikan motor dan mengangkat panggilan yang ternyata dari Unur, adikku. Setelah menormalkan napas, aku menyapa Unur di seberang.