Pembalasan Sang Dokter Jenius
Ia terus melirik ke sekelilingnya dengan waspada.
“Kenapa jadi jarang dipakai, Mas? Padahal kelihatannya ini ruangan paling bagus,” tanya Joko lagi.
Adam menghela napas panjang. Ia menatap Joko dengan tatapan serius. “Karena ruangan ini angker, Jok. Seriusan. Banyak yang sudah lihat penampakan di sini kalau sudah lewat jam tiga sore. Ada yang lihat bayangan hitam lewat, ada yang dengar suara orang menangis padahal nggak ada siapa-siapa. Puncaknya itu sekitar enam bulan lalu, salah satu staf marketing, cewek, lembur sendirian di lantai ini. Dia nekat masuk ke ruangan ini buat ambil dokumen, besok paginya dia ditemukan pingsan sambil meracau. Kesurupan.”