Warisan Artefak Kuno
Setelah meninggalkan pesan penuh ancaman, dengan langkah pelan dan tenang sambil memukul muyu, Imam kecil itu pergi.
Doa yang ia bacakan terdengar keras, memenuhi benak Penjahat Mayat Hidup. Di tengah rasa sakitnya, ada sesuatu yang menggelitik hati penjahat itu. "Imam Sesat Kecil? Mengapa aku merasa seperti pernah mendengar nama itu sebelumnya?"
Wajah Penjahat Mayat Hidup berkerut, mencoba mengingat di mana ia pernah mendengar julukan Imam Sesat Kecil itu, namun ia tidak dapat mengingatnya.