Penguasa Hati
Berjuang untuk bernapas, sementara di sekelilingku makhluk-makhluk indah berkilauan berenang dengan anggun.
Aku memeluk tali ranselku lebih erat, satu-satunya benda familier di antara lautan tas bermerek dan sepatu berlogo mewah yang berjejer di setiap bangku. Kemeja flanel yang kupakai terasa salah kostum, seolah ia berteriak "Aku bukan milik tempat ini!" Suara-suara riang berdengung di telingaku, potongan percakapan mereka melayang-layang seperti serpihan kaca tajam.
"Serius, Papa memberiku mobil baru hanya karena aku berhasil masuk sini. Padahal aku maunya yang model sport, bukan sedan standar."
Bab Populer