KEMBALINYA SANG RATU
Eline mengangguk, “Di sini, di Leiden, kami percaya bahwa setiap naskah adalah pelajaran yang hidup. Dan setiap huruf memiliki cerita, seperti halnya setiap daun di Buton.”
Pagi itu, saat bising kota belum sepenuhnya tergantikan oleh bisikan buku, Lintang ditemani oleh Eline dan beberapa mahasiswa dari berbagai negara. Mereka duduk di sebuah ruang kelas yang dipenuhi cahaya alami, di mana Lintang mempresentasikan gagasan-gagasannya tentang Madrasah Langit—sebuah visi pendidikan yang menggabungkan kebijaksanaan tradisional dengan teknologi modern. Kata-katanya mengalir bak melodi lembut, membawa pendengarnya menyelami arti mendalam dari "tanah yang merawat" dan "langit yang memeluk."