Ketika Takdir Menyapa
Saat menunggu giliran interview, ia sempat melirik beberapa kandidat lain yang tampak lebih percaya diri dan berpenampilan lebih mewah.
Namun Saras tersenyum.
Ia sadar, kejujuran dan kerja kerasnya adalah nilai yang tak bisa dibeli dengan penampilan. Ketika namanya dipanggil, ia berdiri, menarik napas panjang, lalu masuk ke ruangan.
Di dalam, dua pewawancara sudah menunggu. Salah satunya, seorang perempuan muda bernama Dita, menyapanya dengan ramah.
“Selamat pagi, Mbak Saras. Silakan duduk. Kami sudah baca CV Anda, cukup menarik. Bisa ceritakan sedikit, kenapa Anda ingin pindah dari tempat kerja sebelumnya?”
Hot Chapters