Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
My Ex My Husband

My Ex My Husband

“Papaaaaaaaa..” TO BE CONTINUE
1099.6K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 2.2K kali sebagai penat
Tampilkan Ulasan (26)
Baca
+Pustaka
Its Me Nouris
Halo Readers semua. Makasih banyak ya udah setia nungguin Gala Bintang. Supaya aku tambah semangat, tinggalkan komentar setelah kalian membaca ya. Aku rencana Up 2 bab lagi setelah bab 46 ini up, mana tau kalau kalian kasih semangat, aku khilaf jadi up 5 bab hehe... ditunggu reviewmu...
Samaira Siswanti
Kakak aku mampir ke ceritamu bikin aku baper deah semangat terus yea up nya. Mampir juga ke karya receh aku "I'm My Sister's Replacement Bride" Semoga suka 🙏jangan lupa tinggalkan jejak disana yea masih
Baca Semua Ulasan
Mate

Mate

tanyaku tiba-tiba mellow. Mas Wira menoleh dan menatapku. “Mungkin.” Aku menghela napas kecewa. “Sudah kuduga.” “Kamu ini kenapa kok kayak insecure banget sih?” Aku menunduk sedih. “Aku tuh sedih banget sering dikatain ‘Fita itu cantik tapi nggak sexy’, ‘Fita itu hampir sempurna tapi dadanya rata’, ‘Fita itu kayak bocah banget’.”
103.8K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 114 kali sebagai penat
Baca
+Pustaka
Berebut Pantas

Berebut Pantas

Selain karena ingatan tentang dia yang Varen sebut sebagai pengecut, aksi pemotor nekat juga memicu emosinya tersulut. “Bosan hidup kau, ya?” Telunjuk Varen teracung kepada si pemotor nekat. Varen seketika terdiam ketika si pemotor membuka helm motornya. Rupanya, dia yang nekat tak lain adalah lelaki yang dicintai Arash. Dio, dialah yang menepikan motor Varen. “Sorry, Ren. Aku terpaksa membuatmu menepi karena sejak tadi kau seperti orang yang tidak fokus mengemudi,” ungkap Dio.
1.1K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 39 kali sebagai penat
Baca
+Pustaka
Dokter Ajaib Dari Dunia Paralel

Dokter Ajaib Dari Dunia Paralel

gumam Peter dengan nada frustrasi sangat besar. Empat. Tiga. Dua. Satu. Nol. Suara sistem bergema dengan nada dingin. "Waktu habis. Status: Kegagalan. Penalti: Lima puluh Kredit Tempur." Bersambung
1045.9K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 1.4K kali sebagai penat
Baca
+Pustaka
Dimanja Suami Kontrakku

Dimanja Suami Kontrakku

“Kenapa?” Dia mencoba menetralisir keadaan, berusaha memberitahu Rex kalau dia tidak marah hanya … terganggu. Rex mengangkat bahu. “Enggak kenapa-kenapa.” Anita menatapnya beberapa detik lebih lama dari biasanya. Tidak ada kata lagi yang keluar dari bibir Anita, hanya memaku pandangan padan pria tampan di sampingnya. “Oh,” akhirnya Anita merespon dengan nada pelan. “Aku pikir kamu cuma capek.”
1040.8K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 1.6K kali sebagai penat
Baca
+Pustaka
Penebusanku, Semoga Kau Senang

Penebusanku, Semoga Kau Senang

Aku menatap matanya yang penuh cinta, lalu mengangguk pelan. “Baik.” [Tamat]
7.5K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 225 kali sebagai penat
Baca
+Pustaka
Luka (Yang) Cantik

Luka (Yang) Cantik

Prolog Ssshhh. Suara desisan seorang perempuan yang bertelanjang tubuh. Sedang memungut pakaian miliknya yang ada di bawah kasur. Bulu kulitnya meremang merasakan dinginnya malam gelap. Ditambah rasa nyeri pada area kewanitaannya bertambah perih. Rennata—perempuan yang sedang bertelanjang. Sesekali menekan bagian bawah perutnya dan berjalan dengan sedikit membuka lebar jarak kedua kaki. Berharap rasa nyeri sedikit mereda.
4.8K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 114 kali sebagai penat
Baca
+Pustaka
Hajatan Tetangga

Hajatan Tetangga

sampai tak tahu artinya gak pernah kutuan? "Itu artinya rambut kita bersih-bersih, Pah," celutuk Makmur seraya meminum jus. "Berarti itu pujian, ya?" suami melanjutkan makannya yang sempatkan terjeda. "Pah, itu bukan pujian, tapi hinaan, jangan polos kali, Pah," kataku akhirnya. "Hinaan?" suami mengerjitkan kening. "Iya, Pah, sekaligus sindiran, Bu Bondan memang jago menyindir." kataku kemudian.
1041.7K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 916 kali sebagai penat
Baca
+Pustaka
Pagi yang Enggan Kembali

Pagi yang Enggan Kembali

Dia tetap bersama Baskara, membantu pekerjaan yang ringan. Baskara ber-aduh lirih untuk yang ke dua kali. Telapak kakinya tertusuk pecahan beling di lantai. Aru bergegas mengambilkan penutup luka dan sandal untuknya. "Nggak usah," tolaknya saat Aru juga menyerahkan sandal karet dengan kepala kelinci berwarna merah muda di mukanya.
1.4K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 47 kali sebagai penat
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
1
...
34567
...
10
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status