Penguasa hati
Mulutnya terbuka lebar, terlihat senyum semringah bercahaya dan memantul dari giginya yang berjejer rapi dan putih.
“Tidak pernah menyerah, pantas, dijuluki editor veteran.” Dengan malas Mahesa bangkit, berjalan menuju pintu dan membuka pintu geser dari kaca itu.
“Sibuk?” tanya Mbak Lam, Mahesa biasa memanjangkannya menjadi lampir—tokoh wanita dalam cerita legenda Brama Kumbara, karena kedatangannya sudah bagaikan horror, menghantui, meminta naskah dalam jumlah berhalaman-halaman dalam waktu dekat, selain itu, ceriwis tiada tara. Jangankan berbicara, bernapas saja sulit bagi Mahesa apabila harus berdiskusi dengannya.
Hot Chapters