Kultivator Inti Semesta
“Xiao Jian, aku tak berharap kesombonganmu bahkan melebihi tokoh-tokoh di era kuno. Mereka yang sudah berada di masa puncaknya masih bisa kami bantai, apalagi kamu hanya pembudidaya era ini yang mengandalkan sumber daya dari sampah-sampah yang kami tinggalkan!”
Suara pria bertopeng itu meledak, bergema seperti guntur yang merobek ruang. Kata-katanya keras, berusaha menekan, namun di balik ledakan itu ada kegelisahan yang tidak bisa ia sembunyikan. Semakin keras ia berteriak, semakin nyata jurang perbedaan yang mencengkeram ruang di antara mereka. Angin berputar, energi Ilahi bergetar, tetapi yang menguasai ruang bukanlah amarah pria bertopeng itu, melainkan kekuatan yang bersumber dari Xiao
Sikat na Kabanata