Perempuan Gila
Emi berdiri di sana, di depan kompor elektriknya, dengan tangan yang begitu sibuk mengoyak wajan yang mendesis, sementara hatinya terus cemas mempertanyakan "Apakah masker matanya berguna?"
Setiap kali air matanya jatuh, Emi akan langsung mengusapnya dengan cepat, melatih kembali bibirnya untuk mendapatkan senyum lebar yang sempurna.
"Istri sempurna tidak pernah marah, istri sempurna tidak cerewet, istri sempurna pengertian, istri sempurna tidak merajuk..." Kalimat demi kalimat itu terus berjatuhan dalam lubuknya, seolah kata-kata itu adalah plester yang mampu menutupi seribu kebohongan di hati Emi.