Gila, malam itu mulutku masih terasa terbakar padahal piring sudah kosong — dan perut mulai ngelag seperti ada yang dipelintir.
Aku biasanya doyan pedas, tapi kali itu beda: beberapa puluh menit setelah kunyah sambal super panas aku merasa mual, perut kram, dan sampai berkeringat dingin. Dari pengalaman dan bacaan panjang tentang makanan pedas, ada beberapa mekanisme yang menjelaskan ini. Pertama, zat aktif pada cabai—kapsaisin—nggak cuma bikin rasa panas di mulut, tapi juga mengikat reseptor khusus (TRPV1) di saluran cerna. Aktivasi reseptor itu memicu sensasi nyeri/terbakar dan bisa merangsang saraf vagus yang terhubung ke pusat mual di otak, jadi wajar kalau tiba-tiba pengin muntah.
Kedua, pedas bisa meningkatkan produksi asam lambung atau mengiritasi lapisan mukosa perut, terutama kalau lapisan pelindungnya tipis karena stres, minum alkohol, atau konsumsi obat tertentu. Kalau terjadi inflamasi ringan (gastritis) atau kalau seseorang punya refluks, efek ini terasa lebih tajam. Ada juga pengaruh pada motilitas usus—beberapa orang malah kram dan diare karena usus bereaksi lebih cepat; orang lain malah merasa penuh dan mual karena pengosongan lambung melambat.
Kalau lagi kena, trik yang sering kubuktikan manjur: minum susu atau makan roti/terigu dulu karena protein dan pati bisa 'menangkap' kapsaisin lebih baik daripada air, yang kadang malah menyebarkan sensasi panas. Teh jahe atau jahe segar juga bantu redakan mual. Antasida kadang meringankan kalau asam lambung naik, tapi kalau sakitnya hebat, muntah terus, berdarah, demam tinggi, atau berlangsung lebih dari sehari, aku nggak ragu minta pemeriksaan dokter biar nggak ada masalah serius seperti ulkus atau pankreatitis. Aku belajar dari pengalaman sendiri kalau kadang nekat mau tunjuk gaya justru harus bayar rasa—sekarang lebih suka tantang lidah dengan takaran hati-hati dan selalu sedia laktosa atau roti di samping piring.