SUCI TAK PERAWAN
Memangnya dia tidak takut orang tuanya marah padanya, atau sebenarnya mereka juga sudah tahu dan bersekongkol menjebakku.
"Apa-apaan kamu, Kairo!" teriak Papa dengan suara menggelegar. "Kamu ini berpendidikan gak sih, hidup di jaman apa. Kau maknai keperawanan hanya dengan setitik darah," sambungnya, masih dengan nada marah luar biasanya.
Harusnya aku yang semarah itu, kenapa malah dia.
"Memangnya harus kumaknai dengan apa, Pa? Apa seharusnya kubawa tes dulu putrimu sebelum kunikahi?"