Pintu Tertutup, Begitu Juga Hatiku
"Di sini ada pohon mahoni yang ia suka, dan ada anak yang menemani. Ia tidak kesepian."
Padahal dalam lubuk hatinya, ia tahu persis bahwa dirinya sendirilah yang kesepian.
Pagi itu, langit belum terang benar. Ia sudah mengenakan jaket tebal yang sudah pudar warnanya, melangkah pelan keluar dari pondok kayu darurat yang dibangun Pak Harto tepat di sebelah nisan. Pondok itu sederhana sekali, hanya ada satu ranjang papan dan satu tungku arang. Musim dingin dinginnya seperti gudang es, musim panas gerahnya seperti dikukus. Ia melangkah menghampiri nisanku, lalu mengeluarkan sesuatu dari sakunya, terbungkus sapu tangan yang dilipat rapi. Dengan hati-hati ia membukanya, di dalamnya terdapat seteng
Hot Chapters