Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Nyonya, Tuan Presdir Sedang Mencari Putrinya

Nyonya, Tuan Presdir Sedang Mencari Putrinya

Kabut tipis menggantung di atas sawah dan ladang, menciptakan pemandangan yang menenangkan bagi siapa pun yang melihatnya. Di sebuah rumah sederhana yang berdiri di pinggir kebun kecil, Flora Andini kini hidup sebagai seorang petani. Ia mengelola sebidang tanah warisan keluarga dengan penuh kesabaran. Hidupnya tak lagi mewah, tak lagi dikelilingi pelayan atau fasilitas kelas atas. Tapi di balik segala kesederhanaan itu, ia menemukan hal yang selama ini tak pernah ia temukan di rumah mewah keluarga Marshall—ketenangan. Di tengah kesibukannya mengangkut hasil panen sayuran ke dalam keranjang rotan, terdengar tawa kecil dari balik pintu rumah kayu itu.
817 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 21 kali sebagai puisi petani
Baca
+Pustaka
Sang Dewa Perang

Sang Dewa Perang

Apa orang biasa akan membayar sebesar itu? Pria bersetelan jas itu meludah sebelum dia melihat ke arah petani itu lagi dan berkata, “Bagaimana menurutmu? Apa kau ingin menggali sendiri atau membiarkan orang-orangku yang menggalinya untukmu?" Petani itu terdiam dan terus menangis. Pria berjas itu menggelengkan kepalanya. “Sampah. Heron, cukil matanya."
9.23.9M DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 148.4K kali sebagai puisi petani
Tampilkan Ulasan (432)
Baca
+Pustaka
Sun Shine
"Percuma tampan tapi penyakitan! Dia juga bodoh dan miskin!" Begitulah orang-orang mencemoohnya. Dia adalah seorang pemuda bernama Green Williams. Bagaimana jika kamu memiliki suami seperti Green? Penyakitan, lamban dan selalu bergantung padamu. Mari ikuti kisahnya dalam judul :[Suami Tak Sempurna]
malapalas
BACA novel berjudul :FREL. Banyak kejutan di dalamnya. Selain tentang cinta segitiga yang bikin baper, gemes dibumbui humor dan mengharubirukan, kalian akan disuguhi dg persahabatan, keluarga, luka dan rahasia di masa lalu orangtua yang akan membuat cerita lebih seru dan menjungkirbalikkan perasaan.
Baca Semua Ulasan
Prajurit Tangguh

Prajurit Tangguh

Ok sir," jawab Lusi. (Baik Pak,) Lusi akhirnya membacakan puisi yang berjudul Prajurit Tangguh. "You are a valiant young man, with a striped uniform and a long-barreled weapon that you always hold in your hand. You are a Tough Soldier, who is a lamp in the dark. Which becomes an umbrella when it rains, which becomes a comfort when we are sad. You are willing to die to protect the Republic of Indonesia, O tough soldier," ucap Lusi dengan semangat empat lima membacanya.
1014.8K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 593 kali sebagai puisi petani
Baca
+Pustaka
Sang Menantu Perkasa

Sang Menantu Perkasa

Setelah beberapa saat, dia bertepuk tangan dengan keras sambil memuji, "Puisi yang bagus. Sungguh indah, luar biasa." "Tentu saja." Arjuna tersenyum. Puisi itu adalah mahakarya seorang penulis, ahli filsafat dan penyair kuno zaman Dinasti Ratungga, Sapardi. Bagaimana mungkin tidak luar biasa? "Ribuan gunung tak ada burung, ratusan jalan jejak manusia pun sirna ...." Pria tua itu masih menggumamkan puisi Arjuna. "Puisi yang sangat indah, apa judul ...." Ketika lelaki tua itu tersadar dan ingin bertanya kepada Arjuna tentang judul puisi itu, Arjuna sudah pergi.
9.3429.4K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 13.3K kali sebagai puisi petani
Tampilkan Ulasan (65)
Baca
+Pustaka
Hamfa Merman
Kisah seorang wanita muda yang pergi ke ibu kota untuk meraih mimpi malah mendapati CEO luar biasa aneh yang tinggal tepat di sebelah kamar apartemen miliknya. Baca hanya di novel berjudul CEO MISTERIUS DI SEBELAH KAMAR. Dijamin seru, menegangkan, dan baku hantam serta adu mulut pun ada.
Easy Loundry
ga cocok u pembaca kek aku yg menyanjung, pria dgn 1 wanita, yg g playboy, g apa2 jahat, intimidasi yg penting u 1 wanita, g suka pria yg gonta ganti wanita, celup sana celup sini. jd blm berani baca buku thor yg ini.. mianheee thorrr, nyari buku dgn judul yg laen milik thor aja...
Baca Semua Ulasan
PELITA DI TENGAH GELAP

PELITA DI TENGAH GELAP

Dina menghampiri, membaca caption yang ditulis sang konten kreator, “Warung kecil rasa besar, di sini aku belajar bahwa ketulusan bisa lebih lezat dari bumbu apa pun.” Komentar bermunculan, “Tempatnya sederhana tapi hangat banget vibesnya!” “Pengen coba gorengan mereka kalau ke Sumatera Barat!” “Pasangan ini inspiratif banget kelihatan kerja dari hati.” Dina menutup mulutnya terkejut “Ya Allah, Yon orang sebanyak ini lihat kita?”
746 DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 20 kali sebagai puisi petani
Baca
+Pustaka
Perjalanan Dimensi Waktu Sang Genius

Perjalanan Dimensi Waktu Sang Genius

] [ Panen dengan cepat di ladang yang luas, jangan berhenti dari pagi hingga petang. Setelah Wira membaca puisi yang ditulisnya, senyuman penuh pujian segera terukir di wajahnya. Dia tanpa sadar mengucapkan puisi yang ditulis oleh wanita itu secara perlahan, "Panen dengan cepat di ladang yang luas, jangan berhenti dari pagi hingga petang. Sungguh indah, benar-benar puisi yang luar biasa!"
96.1M DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 184.3K kali sebagai puisi petani
Tampilkan Ulasan (2659)
Baca
+Pustaka
Winda KD Fashion
Ceritanya bagus, penuh inspirasi tapi... saya tidak setuju Wira nikah lagi. Kasihan Wulan, selama 3 tahun menahan siksa dari Wira lahir dan batinnya. Walaupun dia tersiksa, dia gak mau ninggalkan Wira, dia selalu melayani dan memenuhi kebutuhan Wira. Wira jadi orang kaya, malah nambah istri lagi ...
Hasan Aunur Rofiq
saya sangat menyukai novel ini karena ceritanya sangat menarik dan pembaca dapat dengan mudah memahami isi novel ini tetapi sayangnya bab di dlm novel ini sangat pendek namun dengan kelebihan dan kekurangan tersebut novel ini tetap sangat layak untuk di baca dan terimakasih untuk pembuat novel ......
Baca Semua Ulasan
Cinta di Antara Sawah

Cinta di Antara Sawah

“Anak petani kudu setia sama sawah, bukan ngelamun soal buku.” — Peribahasa Jawa, Sidomulyo Pagi di Sidomulyo masih diselimuti kabut tipis yang melayang di atas sawah. Matahari baru muncul separuh dan sinarnya nyapu padi hijau yang bergoyang pelan ditiup angin. Ardi Santoso berdiri di pematang sawah keluarga, tangannya megang cangkul tua yang gagangnya udah licin dipake bertahun-tahun. Dia ngeliat sawah yang luas dan ngerasa beban berat di pundak. Mimpi kuliah kayaknya cuma angan, pikirnya sambil nyanyi kecil lagu “Gugur Bunga” yang kedengeran dari radio tetangga. Aroma tanah basah dan suara burung pipit bikin suasana damai, tapi hati Ardi gak tenang setelah kejadian di bioskop keliling sema
835 DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 20 kali sebagai puisi petani
Baca
+Pustaka
BANDIT GUNUNG BERBUDI LUHUR

BANDIT GUNUNG BERBUDI LUHUR

"Ayo, gosok tintanya! Karena aku adalah 'seorang penyair', izinkan aku menggubah beberapa bait puisi terlebih dahulu!" Di balik perintah konyol itu, bibir Sori menyiratkan senyum licik. Penyamarannya sebagai penyair pengelana yang penakut berjalan sempurna. Di desa ini, ia tidak hanya akan menulis puisi, tetapi juga mengamati seberapa besar kekuatan sebenarnya dari pria bernama Raja Doli itu. *** Di tengah aroma tanah yang basah di kebun cabai dekat pondok kuda, aku berdiri mengamati barisan tanaman yang mulai tumbuh subur. Namun, pikiranku tidak sepenuhnya berada di sana.
101.1K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 27 kali sebagai puisi petani
Baca
+Pustaka
Mengandung Bayi Presdir Dingin

Mengandung Bayi Presdir Dingin

Keenam orang itu mengonfirmasi urutan tanggapan puitis mereka. Christopher adalah orang pertama yang membacakan puisi, bertemakan angka dua: "Rumput tumbuh, burung warbler membumbung tinggi di langit bulan Februari (2); di sepanjang tanggul, pohon willow menari dalam kabut musim semi yang memabukkan." Selanjutnya adalah Leia, yang memusatkan syairnya pada angka empat: "Teras ini memanjang empat (4) ribu delapan ratus zhang; merenungkannya membuat orang merasa cenderung mengarah ke tenggara."
3.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 85 kali sebagai puisi petani
Baca
+Pustaka
Resep Rahasia Sang Pecundang

Resep Rahasia Sang Pecundang

Ia merasakan kemurnian yang hampir ia lupakan, kemurnian yang menjadi alasan ia dan leluhurnya mengabdikan hidup pada tanah itu. Satu per satu petani lainnya mulai makan. Keheningan turun di pelataran itu, hanya diselingi oleh suara seruputan kuah dan denting sendok yang beradu dengan batok kelapa. Tidak ada pujian yang terucap, tetapi Radit bisa melihatnya di wajah mereka. Pundak-pundak yang tegang itu mulai rileks. Wajah-wajah yang keras itu melembut. Beberapa petani tua bahkan terlihat menyeka sudut mata mereka dengan punggung tangan yang kapalan.
951 DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 26 kali sebagai puisi petani
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
1
...
45678
...
10
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status