Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Jejak di Balik Pesantren

Jejak di Balik Pesantren

Lalu satu suara pelan terdengar dari ujung aula: “Maka siapa yang menentukan makna, jika semua kata hidup?” 7. Dunia yang Membaca Diri Sendiri Pagi berikutnya, langit bukan lagi biru. Langit menjadi lembaran puisi. Dan setiap langkah santri menulis ulang puisi itu. Ada kalimat yang terbentuk dari cara mereka mengaji. Ada paragraf yang muncul saat mereka menyampaikan pertanyaan yang jujur. Ada halaman baru yang lahir setiap mereka berani mengatakan, “Aku tidak tahu.”
2.3K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 60 kali sebagai puisi santri
Baca
+Pustaka
Rumah Tengah Hutan

Rumah Tengah Hutan

Saya mengucapkan kalimat inprov itu dengan terbata-bata. “Teman-teman santri yang saya banggakan, malam ini saya membawakan materi tentang sajak.” Semua santri terdiam. “Sajak, adalah sebuah ...” saya menjelaskan tentang pengertian sajak kepada semua santri. Saya tidak ambil pusing apakah mereka sudah paham atau belum, yang penting saya sudah berusaha menjelaskan. “Nah, teman-teman santri, salah satu tokoh yang saya kagumi karena sajaknya adalah, Cak Nun. Kalian kenal dengan dia?” kebanyakan santri menjawab dengan jawaban ‘Kenal’.
8.99.6K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 374 kali sebagai puisi santri
Baca
+Pustaka
Balada Asmara Biduan Dangdut

Balada Asmara Biduan Dangdut

Barangkali karena puisi bisa mengobati rasa gundah di hati. Tak sengaja ranting terinjak oleh kaki. Tapi mungkin, ia memang sedang menunggu patah. Hanya 2 baris yang mampu kutulis. Sebab malam benar-benar terlampau larut. Hingga tanpa kusadari, aku pun tertidur di kursi teras ini. **** Pagi harinya aku bangun saat mendapati suara para santri telah berisik di sebrang sana. Pukul 07.00 pagi. Mereka sedang melakukan olah raga pagi.
1010.2K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 225 kali sebagai puisi santri
Tampilkan Ulasan (13)
Baca
+Pustaka
Haras
Hallo semua, saya mulai aktif untuk melanjutkan cerita ini lagi ya. Mohon maaf kemarin sempat berhenti sebab ada kerjaan di luat. Tapi sekarang saya sedang dalam fase alih profesi untuk menjadi fulltime writer. Jadi mohon dukungan dari teman-teman semua. Terima kasih Semoga terhibur & sehat selalu.
liza sarah
cerita yg unik. gk tau kisah nyata ato gk, tp ngalir alami gt jln ceritanya. gk bnyk2 drama buatan buat seru cerita. sukaaaaak.... lucu, seger ceritanya. pesan moralnya jg dpt. ya ampuuuun setelah tamat ceritanya br berasa kehilangan. keren lah, gk bosen bacanya.
Baca Semua Ulasan
Cinta Antara Dua Dunia

Cinta Antara Dua Dunia

Amara menatap dirinya di cermin, lalu berbisik lirih, “Apakah benar aku pantas menjadi penghubung dua dunia?” Dari luar, suara lembut ibunya menjawab, “Kau bukan hanya pantas, Nak... kau memang ditakdirkan untuk itu.” Malam turun perlahan. Langit pesantren berwarna keunguan, di antara bintang-bintang yang berkelip lembut, seolah menunduk menyaksikan peristiwa langka yang akan terjadi. Di pendopo utama, para santri duduk rapi dalam pakaian putih bersih, membaca shalawat dengan irama lembut. Cahaya lentera bergoyang ditiup angin, menciptakan suasana sakral yang sulit dijelaskan dengan logika manusia.
10849 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 27 kali sebagai puisi santri
Baca
+Pustaka
JIN PENGHUNI RUMAH KOSONG LEBIH PERKASA DARI SUAMIKU

JIN PENGHUNI RUMAH KOSONG LEBIH PERKASA DARI SUAMIKU

Kiai memerintahkan para santri tetap melafazkan ayat-ayat suci. Pria berjenggot putih ini segera mendekati arah keranjang sebuah lembaran berisi tulisan arab dilemparkan ke tengah kobaran api. Pak Kiai mengambil ponsel dari kantong saku lalu mulai menghubungi salah satu santri yang berada di rumah Bu Teti. “Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Kiai.” “W*'alaikumussalam W*rahmatullahi W*barakatuh. Semua barang pengundang jin sudah terkumpul tanpa tersisa?”
1074.4K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 2.5K kali sebagai puisi santri
Baca
+Pustaka
MENANTI KEPASTIAN

MENANTI KEPASTIAN

Dini banjir tepuk tangan yang sangat meriah. Penampilan yang terakhir, di tutup dengan pembacaan puisi berantai oleh Fatiya, Puput dan Laura. Perwakilan kamar dua ratus tujuh belas. Gerak tubuh, mimik muka dan pembawaannya yang gokil, bikin mahasantri lantai tiga saling lempar tawa. Kuli Bangunan, Penjual Burung, dan Pemuja Wanita Kuli Bangunan : Aku adalah seorang kuli bangunan...
104.4K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 128 kali sebagai puisi santri
Baca
+Pustaka
Purba Sang Pemuas

Purba Sang Pemuas

Purba satu ini malah terus melangkah dengan dada dibusungkan ke depan, berniat mencari padang rumput untuk meminta ampun pada Dewa. "Aneh kali dunia modern. Kenapa goa mereka terang benderang kayak gini, tapi betinanya malah suka menjerit kalau lihat pejantan sehat," gumam Purba dalam hati sambil menggaruk perutnya yang kotak-kotak. Yap, benar sekali.
9.5K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 303 kali sebagai puisi santri
Baca
+Pustaka
Istri Manis Om Yuda

Istri Manis Om Yuda

*** Pagi itu, udara di desa masih sejuk, dan suara gemericik air sungai terdengar sayup-sayup dari kejauhan bersahutan dengan suara burung di pagi hari. Saat ini Kayla, Yuda, Galih, dan Mbok Inem tampak duduk bersama di area belakang rumah Mbok Inem. Rupanya mereka tengah menikmati nasi hangat dengan berbagai lauk ditambah dengan sambal resep Mbok Inem yang rupanya buatan
101.2K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 39 kali sebagai puisi santri
Baca
+Pustaka
Wanita Pilihan Duda Tampan Sedingin Kulkas

Wanita Pilihan Duda Tampan Sedingin Kulkas

Reggy melanjutkan pembicaraan awal. "Iya, benar." Resita mengangguk. "Isi puisi tentang apa?" tanya Reggy. "Tentang cinta gitu deh. Romantis bahasanya. Sepupuku itu kuliah sastra. Jadi puisinya puitis banget. Judulnya Terawang Romi dan Yuli," jawab Resita. "Kamu bawa teksnya?" tanya Reggy. "Ya. Ini aku bawa buat kamu." Resita mengeluarkan kertas dari tas kecil yang dia bawa.
103.8K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 110 kali sebagai puisi santri
Baca
+Pustaka
Istri Penebus Dosa

Istri Penebus Dosa

“Sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku berikan padamu.” Utari mengeluarkan sebuah buku kecil yang cukup usang dari balik apron yang terpasang di pinggangnya. Wanita paruh baya itu langsung meletakkan buku tersebut di pangkuan Syera. “Ini adalah buku harian Nyonya Kirana.”
1016.3K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 455 kali sebagai puisi santri
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
123456
...
10
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status