Nilakandi
Terbangun dari tidur tak nyenyaknya, yang ada di pikiran Diwana hanya satu, yaitu secepat mungkin mengirimkan pesan rindunya untuk Nilakandi seperti kemarin-kemarin.
“Nilakandi... aku belum pernah mencintai, kamu yang ajarkan. Aku juga belum pernah kehilangan, kamu juga yang ajarkan. Sekarang, aku harus belajar menahan rindu. Sesak rasanya, Nilakandi... Cepat kembali, kamu rumahku, aku mau pulang. Hari ini aku demam lagi, juga rindu kamu lagi.”
Begitulah Diwana menulis bait kerinduannya. Kalau Jovyan membaca tulisan itu, dijamin itu akan menjadi bahan ejekan Diwana untuk dua tahun ke depan saking bucinnya.
Hot Chapters