Ujung Senja
Tengku Asnawi.
“Assalamu’alaikum, Pakcik.”
“Waalaikumsalam, Ra, betul ke?” Suara pria itu bergetar.
“Iyo, Pakcik.” Mendadak aku menangis. Membayangkan hancurnya perasaan keluarga Bang Asman.
Tiga puluh tahun tak pulang, sekalinya mendapat kabar, Bang Asman sudah tiada untuk selamanya.
“Ya Allah, Ya Robb!” pekik histeris dari belakang, entah suara siapa, membuat hatiku makin pilu. Isakku berpacu dengan tangisan Pakcik Asnawi.
Hot Chapters