Warisan Darah Langit
Suara itu kecil, cempreng, dan terdengar seperti kicauan lumba-lumba.
Aksara menoleh dengan gerakan kaku. Di samping dipan batu tempat ia berbaring, berdiri sosok kecil, bayangan yang sempat ia lihat tepat sebelum kesadarannya terputus.
Seorang anak perempuan, mungkin berusia sepuluh tahun. Namun ia jelas bukan manusia. Kulitnya berwarna biru laut, berkilau lembut, dengan sisik-sisik halus menghiasi pipi dan bahunya. Telinganya runcing menyerupai sirip ikan, dan di antara jemarinya terbentang selaput renang tipis. Sepasang matanya yang besar, kuning cerah tanpa pupil menatap Aksara dengan rasa ingin tahu yang polos, nyaris tanpa rasa takut.
Bab Populer