Lima Samurai Batavia
Secangkir teh hangat di pagi hari cukup baik untuk menyuntikkan semangat.
Ditanggapi, Fadjar semakin bergelora untuk bicara, “Mengapa aku merasa, kemerdekaan bukanlah titik akhir dari suatu pencapaian, tetapi suatu titik yang nantinya dapat menghadiahi cabang-cabang yang membuat satu sama lain saling menjauh. Masyarakat ini begitu majemuk, begitu majemuk. Kita hanya dipersatukan lantaran musuh kita sama, yaitu Belanda,”
“Yaaa….. Yaaaaa…..,” Poernomo hanya mengangguk-anggukan kepala.
Capítulos em Alta