Ada momen di mana aku cuma ingin kata-kata yang tenang tapi bermartabat untuk menjawab orang yang jelas-jelas membenci kita.
Aku suka menggunakan nada yang lebih besar dari amarah: misalnya, 'Terima kasih sudah memperhatikan hidupku sampai sedetail itu; semoga semuanya baik untukmu.' Atau kalau aku ingin tegas tanpa menjadi kasar, aku sering bilang, 'Kebencianmu bukanlah cermin diriku, melainkan bayangan yang kamu bawa sendiri.' Ucapan-ucapan seperti ini membuat aku merasa mengambil kendali situasi tanpa menurunkan diri ke level bikin drama.
Kalau suasana hatiku lagi empati, aku memilih yang menenangkan: 'Semoga kamu menemukan kedamaian yang sedang kamu cari.' Itu menutup ruang konflik tapi tetap punya kelas. Dan kalau perlu sindiran halus, aku pakai, 'Maaf kalau eksistensiku mengganggu kenyamananmu.' Kurang menyakitkan, lebih menjentikkan nalar. Di akhir hari, aku selalu merasa lebih baik memilih kata yang membuat aku tetap berwibawa—biar karma yang mengerjakan sisanya.