Selir Yang Terlupakan
Suaranya merendahkan sedemikian rupa, sehingga bahkan Mei Mei yang berdiri beberapa langkah di belakangku pun pasti akan kesulitan mendengarnya.
"Rakyat mendukungnya karena mereka tak punya pilihan lain," bisiknya. "Mereka memihak pada tangan yang memberi mereka makan, dan pada pedang yang melindungi mereka dari bahaya. Namun kesetiaan yang lahir karena kebutuhan akan selalu berbeda dengan kesetiaan yang lahir karena rasa cinta dan kepercayaan yang tulus."
Ia kembali duduk tegak, dan topeng sosok selir yang lemah lembut itu kembali menutupi wajahnya dengan sempurna seolah tak pernah tergeser sedikit pun.