PESONA MAS IPAR
Duduk di kursi samping Mas Harris tiba-tiba aku merasa canggung sekali, sementara Mas Harris, kulihat wajahnya hanya datar-datar saja.
Baru beberapa meter berjalan, lagi-lagi Mas Harris berbelok semaunya. Kali ini kami berhenti di Platinum Resto & Cafe. Sebuah tempat makan yang terjamin kebersihannya, serta enak makanannya, karena banyak pilihan menu dari berbagai negara.
"Di rumah tidak ada makanan. Kita makan dulu." Ucapnya. Aku menatapnya takjub. Terbuat dari apa hati orang ini sebenarnya? Kenapa terkadang baik terkadang sadis?